Tiga Mucikari Pelayan Jasa PSK Diciduk Tim Kalong Wewe Satpol PP Kota Tangerang

Meski sering dilakukan razia, para PSK di Jalan Otista selalu saja dapat lolos dari sergapan petugas. Akibatnya, informasi giat razia penertiban PSK sering kali bocor, sehingga para pelaku mucikari tersebut beroperasi dengan cara kucing-kucingan dengan petugas.

Naah, para pelaku PSK yang acap Kali mengelabui petugas dengan cara mensiasati menggunakan jasa mucikari agar tetap mendapat pelanggan yang meminta jasa untuk memuaskan hasratnya. Dilakukan dengan tidak mangkal dipinggir jalan untuk merayu sasarannya.

Kendati demikian. Dengan adanya laporan dari masyarakat yang resah dengan maraknya praktek prostitusi, dari para mucikari yang biasa menjajakan jasa Pekerja Sex Komersial (PSK). Tim Kalong Wewe yang dipimpin langsung oleh Kaonang, Ssos,. MM selaku Kepala Bidang Penegakan Hukum Daerah (Kabid. Gakumda), serta dibantu dengan personil Kepolisian Polres Metro Tangerang Kota, pada Pukul 02:00 dini hari, langsung melakukan penegakan Perda Kota Tangerang No.8 Tahun 2005 tentang larangan pelacuran, dengan sasaran menciduk para mucikari yang membantu melancarkan PSK dalam melaksanakan rutinitasnya. (28/7)

Dari giat tersebut, tiga Mucikari yang menjadi target sasaran, berhasil tertangkap basah saat tengah melakukan transaksi praktek prostitusi menjadi mucikari. Yang diantaranya dua orang lelaki paruh baya masing-masing berinisial (S) dan seorang wanita (A) yang diketahui para mucikari bukan berdomisili dari Kota Tangerang dan diketahui mucikari wanita tersebut yang terjaring tengah hamil sembilan bulan.

‘S’ Seorang wanita hamil yang mengaku, Sudah menjalankan Profesi sebagai mucikari selama 4 tahun lamanya, dengan menawarkan para wanita kepada lelaki hidung belang berkisar dengan harga Rp. 250rb sampai harga Rp.400rb sekali main dan harga yang ditawarkan pun bervariasi sesuai dengan permintaan.

“Selama 4 tahun saya terpaksa menjalani pekerjaan menjadi calo PSK karna kebutuhan ekonomi, sebelumnya saya menawarkan diri, jika tidak berminat saya langsung menawarkan wanita yang lain, yang penting mendapatkan komisi,” Kata ‘S’

“Jika mau lebih muda ditawarkan harga lebih tinggi dan itu sudah berikut biaya hotel kelas melati dan harga standar untuk PSK yang sudah berumur.” Papar ‘S’ kepada awak media.

Dalam pekerjaannya, Mucikari tersebut dapat meraup untung 20 hingga 50 ribu per-orang Tergantung dari hasil tawar- menawar pemesanannya.

Ya, Kaonang SSos., MM. Selaku Kabid Gakumda Sat Pol PP Kota Tangerang menerangkan, dalam kegiatannya, khusus penegakan Perda No.8 tahun 2005 tentang larangan kegiatan pelacuran yang difokuskan di jalan otista Kota Tangerang.

“Malam ini memang fokus menangkap mucikari yang kerap memacu tindakan prostitusi atau pelacuran. Tersangka langsung digelandang ke Kantor Sat Pol PP untuk diberi pemahaman agar sadar bahwa perbuatannya salah dan melanggar hukum, setelah pendataan para tersangka mucikari dibuatkan surat pernyataan untuk ultimatum tidak akan lelakukan atau melaksanakan profesi sebagai mucikari.” Terang Kaonang.

Kaonang pun menegaskan bahwa kali ini diatur dengan strategi tujuan utama, menjaring atau mengamankan para mucikari yang kerap menjadi oknum pelaku prostitusi atau pelacuran.

“Kegiatan ini akan terus dilakukan sampai Kota Tangerang bersih dari pelanggar-pelanggar perda dan berharap para pelanggar perda mendapatkan efek jera dan tidak melakukannya lagi. Jika kegiatan itu masih terus dilakukan setelah membuat surat pernyataan dan dikemudian hari terjaring anggota. Kami tidak segan-segan untuk menindak tegas dan mengirimnya ke dinsos untuk penanganan lebih lanjut.” Jelasnya. (Yudha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *