POLITISI BERMAIN OPERA DI TAMAN ISMAIL MARZUKI

Suluhnews.com-Jakarta-Pentas Opera yang berjudul MPU TANTULAR LAHIR KEMBALI dipentaskan selama tiga hari di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki jl. Cikini Raya Jakarta Pusat. Dari Tanggal 26-28 September 2018, dijadwalkan tgl 26 dan 28 terbuka untuk umum. Namun pada 27 September hanya dikhususkan tamu undangan dari partai-partai politik dan tertutup untuk umum.

Dibuka dengan parade tarian nusantara yang saling menyambung adegan berlanjut mengenai situasi di Kerajaan Majamanis, yaitu suatu kerajaan antah berantah yang dipimpin oleh seorang raja yang berniat memberlakukan Normalisasi Kehidupan Rakyat Jelata di seantero wilayah kekuasaannya. Dengan program tersebut maka kemiskinan akan hilang, namun cara yang ditempuh Raja justru menghalalkan segala cara dan ini menimbulkan kegelisahan pada lelaki bersorban yang memiliki nama SOTA yang diperankan oleh bintang FTV Angga Wiranata.

SOTA yang selalu mendengar nasehat ibunya ini berniat memperjuangkan agar program normalisasi tersebut dibatalkan. Tetapi SOTA kemudian malah diteror dengan disiram air keras oleh dua orang pengendara motor.

Sampai Cerita berjalan disini, riuh terdengar dikursi penonton menafsirkan digiring pada kasus yang menimpa Novel Baswedan.

Tetapi apa benar SOTA adalah karakter yang diambil dari Novel Baswedan? Sutradara Sudibyo JS yang berperan sebagai MPU TANTULAR dan juga sebagai penulis cerita, menjelaskan bahwa cerita yang diangkat mengedepankan kebajikan yang hakiki yang bersumber dari Tuhan dan sebagai seniman maka sudah kewajibannya untuk menyuarakan nilai-nilai kebajikan tersebut.

Kembali pada cerita, SOTA hadir dalam mimpi SOMA, seorang Putri Raja Kertaraja yang menguasai Kerajaan Majamanis. Dari rasa penasarannya SOMA yang diperankan artis cantik Rachel Maryam bertemu LINGLING, yang berparas cantik berperan sebagai seniman yang menulis kisah berdasarkan kehidupan rakyat di kerajaan Majamis.

LINGLING yang diperankan Eka Kartika Halim menceritakan bahwa lelaki bernama SOMA adalah benar adanya, ia dekat dengan SETI dengan apik diperankan Rahayu Saraswati. Maka mulailah SOMA mencari SOTA dan kala bertemu lelaki yang hadir dalam mimpinya tersebut terjadilah penolakan karena SOTA melihat status sosial SOMA sebagai putri Raja.

Disisi lain, kerajaan bergolak karena harga-harga tak terjangkau membuat kegilaan di tengah rakyat miskin maka terjadilah pembunuhan juga kematian karena kelaparan. SOTA yang melihat kekacauan ini berniat menghadap Raja untuk mengorbankan diri berjuang demi menolak normalisasi yang dijalankan Raja.

MPU TANTULAR sebagai ulama yang disegani di Kerajaan, meminta Raja untuk mengawinkan SOMA dengan seorang pemuda bernama SOTA demi menenangkan negeri. Raja pun dengan berat hati menuruti nasehat MPU TANTULAR, Namun berbondong-bondong banyak pemuda tiba-tiba mengaku bernama SOTA demi memperistri putri Raja nan cantik.

Dan di saat SOTA yang asli bertemu dengan SOMA di Kerajaan dalam keadaan waktu yang tak romantik. Mereka bertemu dikala SOTA berdemonstrasi dan menuntut pencabutan normalisasi dengan menyerahkan dirinya, SOMA yang tersentuh hatinya turut mendukung SOTA dalam demonstrasi tersebut dan ikut menyerahkan diri.

Raja yang menghadapi dilema mendapat nasihat untuk mengorbankan orang lain dan menyiarkan kepada rakyat bahwa putri Raja dan SOTA sudah dihukum mati dengan demikian maka kewibawaan kerajaan tetap terjaga.

Hingga akhirnya SOTA dan SOMA menikah diam-diam tanpa diketahui publik, dan di akhirnya Sota malah menolak mahkota Raja karena bukan itu tujuannya tetapi persatuan di dalam Kerajaan dan terjaminnya keadilan bagi rakyat jelata.

Dihadiri ratusan penonton, acara yang digelar tanpa tiket masuk hanya menyediakan kotak donasi di pintu masuk Graha Santika Budaya di Taman Ismail Marjuki. Sekitar 2/3 kursi dipenuhi oleh penonton yang Hadir pada jumat (28/9) dari beragam kalangan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang membawa anak.

Dengan durasi tiga jam strategi bagi sutradara untuk menjaga irama permainan agar penonton tidak bosan. Salah satu strategi itu adalah menggandeng aktor senior EB Magor yang berperan sebagai Raja Kertaraja.

Kehadiran Magor mampu mengangkat banyak adegan dan memberi kesegaran dengan kemampuannya berimprovisasi. Turut juga bintang FTV Angga Wiranata sebagai SOTA yang cukup menunjukan kualitasnya sebagai aktor sinetron.

Di samping itu ada juga kehadiran politisi yang turut bermain, Rachel Maryam, Rahayu Saraswati, Abdul Hakam Naja, dan Yudha Permana. Bahkan di poster yang disebar ada nama Sandiaga Salahudin Uno.

Namun ternyata kehadiran Sandiaga dibatalkan tanpa konfirmasi dari penyelenggara. Padahal banyak penonton yang hadir juga salah satu motivasinya adalah melihat akting Sandiaga. Tuti (23), salah seorang penonton yang hadir memakai almamater Universitas Mpu Tantular menyayangkan ketidakhadiran Sandi. “padahal saya mau lihat bang sandi main, mau lihat kalo main teater. dia kan ganteng” ujar Tuti. Namun ia juga mengapresiasi Abdul Hakam Naja dari politisi PAN yang juga turut bermain.

Soal keberadaan para politisi ini diakui Sudibyo sebagai sutradara tidak untuk mendukung calon tertentu tetapi lebih mengedepankan pembaruan terhadap nilai-nilai yang selama ini salah agar kembali kepada kebajikan yang datang dari Tuhan.
“Tentu netralitas ini akan lebih terjamin andai politisi yang ikut bermain berasal dari kedua kubu yang berseberangan” hal ini diungkap Boy Mihaballo (38) seorang aktivis Teater dari Forum Ekperimental Teater Tangerang yang hadir menyaksikan acara tersebut.

“Terlepas dari unsur politis yang muncul, dari pertunjukan ini saya berusaha memadukan keragaman nusantara yang terlihat tidak hanya dari tarian yang muncul di awal, namun juga busana dan itu memberi warna yang lumayan menghadirkan ke-bhineka-an” Jelas Sudibyo selaku Sutradara. Dan juga selaku penulis cerita beliau menerangkan cerita ini akan berlanjut di tahun depan dengan lakon MPU TANTULAR BERKELANA. (upi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *